Nikmat sih, nyaman juga, tapi itulah yang membuat kita
lemah. Iya kita manusia.
Dulu kita gembar gembor teriak sana sini musuh terbesar kita
adalah diri kita sendiri.
Sadar gak sih kalian kalau ada musuh kita yang gak kalah
besarnya dari diri kita sendiri?
Sadar? Bagus deh.
Belum sadar? Oke sini aku sadari!
Malas-malasan. Siswa yang lagi rutin-rutinnya ikut bimbel
pasti sering dinasehati tentornya. “Lawanlah diri kalian, lawan rasa malas
kalian. Karena orang-orang yang mampu mengalahkan dirinya sendiri dialah
pemenang sesungguhnya.” Atau apalah itu kata tentor kalian
Tapi sadar tidak kalian kalau ada bibit yang membuat kita
stay dengan kemalasan itu?
Iya kenikmatan, kita merasa nikmat dan nyaman dengan “malas”
ini. Terus ketika kita merasa nyaman dengan itu, apa yang kita lakukan? Pasti kita
memilih bertahan. Pasti.
Kenikmatan mampu mengalahkan diri kita sendiri yang bahkan
sebenarnya adalah hero.
Kita lemah,
Kita hanyut,
Kita lupa akan rasa luka,
Ketika kita berada di zona kenikmatan itu.
“Ketika kamu tau sesuatu itu akan berakhir buruk, sanggupkah
kamu menghentikannya ketika masih terasa indah?”
Sanggup?
Sebagian besar kita pasti jawab engga.
Ketika kita merasa nikmat, kita antara lupa atau tidak
perduli akan rasa sakit yang akan kita rasakan setelahnya.
Kita menghiraukannya, kita lebih memilih terus dengan
kenikmatan itu meski kita tau nanti bakal sakit.
Elok parasnya “kenikmatan” ini. Tapi kejam efeknya kalau
kita lemah.
Ketika kita malas belajar, kita lebih milih ngegame daripada
belajar, atau hangout, nongki ngopi-ngopi kaya orang kaya. Walau sebenarnya
kita sadar akan efek yang bakal kita dapat nanti kalau kita malas belajar. Tapi ya
mau gimana lagi abis nikmat sih? Ya gak?
Bentenglah diri kita agar tidak terbuai sama kenikmatan yang
fana itu.
Sekarang kita jadi sama-sama taukan kenapa Allah atau Tuhan
kita banyak melarang hal-hal yang sebenarnya sangat nikmat untuk dinikmati.
Berzina, minum minuman keras, menggunjing, menghina orang
lain. Karena Allah atau Tuhan kita gak mau hambanya hanyut akan kenikmatan fana
itu dan kemudian merasa luka setelahnya.
Tanyakan pada dirimu betapa baiknya Allah atau Tuhanmu
kepadamu, Dia memberi tahumu terlebih dahulu sebelum kau tahu yang sebenarnya.
Jadi, mulai sekarang jangan terlalu hanyut dengan
sesuatu yang kamu rasa nikmat. Fikirkan efeknya di masa mendatang jika
berpotensi luka maka segeralah beranjak dan cari kenikmatan lain yang lebih
nayata dan membuatmu benar-benar nyaman tanpa kau harus tau gimana rasa
sakitnya terluka.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar